KEKANGAN
DARI ORANG TUA
Ada
seorang anak kecil yang cerita tentang bagaimana orang tuanya mendidiknya. Nah
disini si anak tersebut cerita bawah di rumahnya anak tersebut selalu di kekang
dengan bagaimana tugas lesnya, bagaimana sekolah lebih khususnya kemasalah
pendidikannya, tidak pernah sama sekali membincangkan masalah liburan hanya
perkembangan pelajaran saja yang dibicarakan orang tuanya. Seperti yang telah
dikatakan oleh Ali bin Abi Tholib “ jangan paksakan anakmu untuk menjadi
seperti kamu, karena dia diciptakan bukan untuk zaman kamu.”
Nasihat
ali tersebut mengingatkan untuk orang tua agar selalu memperhatikan hal-hal
yang berhubungan dengan perkembangan jiwa seorang anak. Bukan sibuk dengan keterampilan
yang harus ia miliki, kehebatan apa yang harus ia raih, dan pekerjaan apa yang
mesti ia impikan. Disini kita serahkan kepada anak apa tujuan ia hidup dan
untuk selalu memegang komitmen yang kuat pada agama. Kegagalan adalah ketika
dapat melebihi kehebatan orang tuanya, tetapi jiwa mereka rapuh, sementara iman
hampir-hampir tidak dapat ditemukan bekasnya.
Bercermin
pada Nabi, pendidikan anak pada masa anak-anak awal diarahkan untuk membangun
keyakinan yang kokoh kepada allah. Di tembuh dengan dua hal yaitu :
1.
Memberi dasar-dasar keyakinan
Dari rasulullah kita juga belajar
bagaimana mempelajari dasar-dasar keyakinan kepada allah ditumbuhkan sejak
balita. Karena ketika balita itu
anak-anak mudah meresap apa yang ia dengar dan ia liat baru ia akan menirukan
apa yang ia dengar dan ia liat. Pada saat inilah anak tersebut akan cepat
tanggap untuk menirukan sesuatu.
2.
Melimpahkan kasih sayang secara
tulus, dan bersahabatlah dengan anak. Karena tulus dari orang itu sangat
mempengaruhi pertumbuhan anak.
Alahkah
hangat kasih sayang orang tua, mereka akan selalu mengingat kenangan-kenangan
yang telah di alami dengan orang tuanya, ketika sholat jama’ah, ketika
berlibur, ketika belajar ngaji, dan tidak dikekang dengan masalah yang mengasah
otak saja akan tetapi dengan hiburan jiwa seorang ada juga ada. Mereka merasakan
keindahan kebersamaan bersama keluarga bukan tertekan karena anak untuk terus
ditanyakan masalah yang menghambat perkembangan anak.
Masih
banyak orang tua merasa dengan sungguh-sungguh berjuang untuk anaknya. Padahal
yang terjadi sesungguhnya adalah memaksa menjadi seperti keinginan orang tua.
Kita paksa anak-anak kita untuk meniru kehidupan orang tua, dengan bekal
seperti bekal orang tua, padalah ia diciptakan bukan untuk menghadapi zaman
seperti orang tua. Ia diciptakan untuk menghadapi zaman lain yang berbeda.
Telah
kita ketahui bahwa kecerdasan otak dan kekuatan bakat tak cukup kuat untuk
mengokohkan jiwa anak dan menghidupkan hati mereka. Anak-anak yang cerdas
terbiasa di bekali dengan pengetahuan tanpa dibangun empati dan komitmen hidup
yang kokoh justru lebih mudah mengalami stres. Sedangkan anak-anak yang memilki
otak yang cemerlang tetapi kurang memikirkan pengetahuannya, kurangnya kasih
sayang dan tidsk terbina tujuan hidupnya
justru sangat rentan frustasi. Mereka rwan terkena depresi dan keputusasaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar