Rabu, 30 Maret 2016

KEKANGAN DARI ORANG TUA

KEKANGAN DARI ORANG TUA
Ada seorang anak kecil yang cerita tentang bagaimana orang tuanya mendidiknya. Nah disini si anak tersebut cerita bawah di rumahnya anak tersebut selalu di kekang dengan bagaimana tugas lesnya, bagaimana sekolah lebih khususnya kemasalah pendidikannya, tidak pernah sama sekali membincangkan masalah liburan hanya perkembangan pelajaran saja yang dibicarakan orang tuanya. Seperti yang telah dikatakan oleh Ali bin Abi Tholib “ jangan paksakan anakmu untuk menjadi seperti kamu, karena dia diciptakan bukan untuk zaman kamu.”
Nasihat ali tersebut mengingatkan untuk orang tua agar selalu memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan perkembangan jiwa seorang anak. Bukan sibuk dengan keterampilan yang harus ia miliki, kehebatan apa yang harus ia raih, dan pekerjaan apa yang mesti ia impikan. Disini kita serahkan kepada anak apa tujuan ia hidup dan untuk selalu memegang komitmen yang kuat pada agama. Kegagalan adalah ketika dapat melebihi kehebatan orang tuanya, tetapi jiwa mereka rapuh, sementara iman hampir-hampir tidak dapat ditemukan bekasnya.
Bercermin pada Nabi, pendidikan anak pada masa anak-anak awal diarahkan untuk membangun keyakinan yang kokoh kepada allah. Di tembuh dengan dua hal yaitu :
1.       Memberi dasar-dasar keyakinan
Dari rasulullah kita juga belajar bagaimana mempelajari dasar-dasar keyakinan kepada allah ditumbuhkan sejak balita.  Karena ketika balita itu anak-anak mudah meresap apa yang ia dengar dan ia liat baru ia akan menirukan apa yang ia dengar dan ia liat. Pada saat inilah anak tersebut akan cepat tanggap untuk menirukan sesuatu.
2.       Melimpahkan kasih sayang secara tulus, dan bersahabatlah dengan anak. Karena tulus dari orang itu sangat mempengaruhi pertumbuhan anak.
Alahkah hangat kasih sayang orang tua, mereka akan selalu mengingat kenangan-kenangan yang telah di alami dengan orang tuanya, ketika sholat jama’ah, ketika berlibur, ketika belajar ngaji, dan tidak dikekang dengan masalah yang mengasah otak saja akan tetapi dengan hiburan jiwa seorang ada juga ada. Mereka merasakan keindahan kebersamaan bersama keluarga bukan tertekan karena anak untuk terus ditanyakan masalah yang menghambat perkembangan anak.               
Masih banyak orang tua merasa dengan sungguh-sungguh berjuang untuk anaknya. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah memaksa menjadi seperti keinginan orang tua. Kita paksa anak-anak kita untuk meniru kehidupan orang tua, dengan bekal seperti bekal orang tua, padalah ia diciptakan bukan untuk menghadapi zaman seperti orang tua. Ia diciptakan untuk menghadapi zaman lain yang berbeda.
Telah kita ketahui bahwa kecerdasan otak dan kekuatan bakat tak cukup kuat untuk mengokohkan jiwa anak dan menghidupkan hati mereka. Anak-anak yang cerdas terbiasa di bekali dengan pengetahuan tanpa dibangun empati dan komitmen hidup yang kokoh justru lebih mudah mengalami stres. Sedangkan anak-anak yang memilki otak yang cemerlang tetapi kurang memikirkan pengetahuannya, kurangnya kasih sayang dan tidsk terbina tujuan hidupnya  justru sangat rentan frustasi. Mereka rwan terkena depresi dan keputusasaan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar